Senin, 20 Oktober 2008

SYAIR-SYAIR

LEMBAR PEMBUKA


Aku sadar aku tidak sendiri, ada yang lain. Aku hanya sebuah abjad. Mungkin juga bahagian darinya, aku berada dalam kalimat panjang yang tidak putus-putus, tak tahu persis aku awalnya tak tahu persis aku akhirnya. Aku ikut berbaris mengucapkan sesuatu. Aku bahagian dari irama yang selalu bernyanyi. Ketika aku gelisah, gembira, jalan mendaki dan menurun, mengembara sesuatu ada yang datang, tanpa asalamualaikum. Sesuatu, hanya dengan begitu saja juga hadir di sana. Ia adalah cahaya, cahaya yang membangkitkan semangat yang membuatku hidup, yang membuat langkahku bergairah; gairah hidup dan kepuitikan. Kepuitikan bukanlah hakekat dari keinginan, ia hanya sebuah keindahan ekspresi. Daya ekspresi hanya sekedar sebuah energi dari sebuah media yang menjembatani sesuatu dalam hidup yang hakiki.
Aku melihat dunia sebagai rumah sementara di belantara luas. Di rumah itu muncul dan tersimpan banyak kata-kata, ekspresi, sekaligus binatang buas dan binatang domestik dari kehidupan. Kepuitikan ada dalam rumah itu, hanya sebersit cahaya. Sebagaimana juga Penyair seperti hidup dalam belantara luas yang sangat banyak pilihan, yang diingini oleh banyak hal. Namun memilih suatu hal adalah suatu kesulitan. Aku kesulitan memilih ekspresi, dan gaya walaupun ide-ide itu sudah kusimpan dan kumatangkan. Tetapi aku menjadi senang, karena aku bertahan menulis puisi, ini juga pilihan, yang entah mengapa aku melakukannya diantara banyak pilihan. Pada hal, mungkin saja aku tidak mempunyai bakat yang besar.
Untuk apa menulis puisi? Bagaimana aku menuliskannya? Semuanya tergantung pada kebebasan yang kupelihara. Kepuitikan kiranya tidak bisa dipaksa biarpun oleh ide pikiran ataupun perasaan sendiri. Aku merasa merdeka, plong, bila aku tidak merasakan tunduk pada hal-hal yang duniawi. Rasanya ada kesadaran lain bahwa kepuitikan bukanlah sesuatu hal yang paling agung atau yang paling diandalkan, kata hanyalah kata yang berbicara. Maka menjaga dari budak kepuitikan, kata-kata, keanehan-keanehan, kehebatan dan banyak tendensi juga terasa susah, tetapi ini sangat penting: bagaimana tidak jadi budak segala hal!
Pada suatu saat aku sangat merasa perlu untuk menemukan estetika baru hingga seringkali aku membongkar puisi-puisi karena ketidakpuasan. Tetapi pada waktu lain aku ingin bertanya, pentingkah memperjuangkan estetika? Sementara memperjuangkan kebenaran dan membebaskan diri dari kegiatan kepalsuan pikiran-pikiran dan aktivitas kepuitikan juga sangat mendesak. Begitulah bertindihannya antara kebenaran dan estetika. Pembaca bisa jadi bingung, ya ‘kan?***

Salam Kreatif!
WNS


Sajak Wannofri Samry
DARI PENYEBERANGAN
(di negeri para pelaut)

1/
di balik pulau ada pulau jauh di baliknya pulau yang meringkuk rindu
pulau-pulau yang berenang-renang kenangan
di balik perahu ada perahu yang antarkan kisah-kisah para wajo mengarung samudera
meniti ombak dari malaka rumah-rumah mereka berenang-renang di atas air laut
di atas keringat arung, melawan para lanun
beratus-ratus perahu berlayar di lautan berderit-derit dalam resah ombak
dermaga kaku menunggu, saat aku ragu
di belakangku batam tumbuh riuh
bentangan laut kekasihmu tak pernah lusuh, bangun selalu
di seberangku dermaga pun menunggu: “naiklah kepulau rindu”, katanya

perahu, dermaga, nahkoda, dan laut, teman setia
berjanji seperti laut tak pernah belah


2/
sambu, lambailah aku
angin pun mengempas di jung kecilku

aku datang tak untuk merompak
aku tak punya kampak

di laut matahari berkaca, diputar ombak wajahmu
aku berdecak jejeran pulau tersenyum ke dalam lamun

di ujung mataku, matamu meneduh
di wajah lautmu, aku biru

di tanah tua, rumput liar dalam rawa
sebuah perahu terkurung di sana, kaukah itu?

rumah-rumah tahan goncangan ombak
tonggak-tonggak kayu gemetar, luruh-pupuh
bertekuk setiap ajalnya

kelupas-kelupas kayu rumahmu, melayang-layang di air
menating perahu bersama air, singapura di depan mataku

anak-anak laut, larut di air
dikurung dunia di lingkaran dinding tabir
hang tuah, hang nadim, pendekar-pendekar selat di air jadi mainan
lautmu mewakili desah di pulau-pulau terasing

dunia menderu di sana
laut menderu di sini

hidup biru di pulau tua, mak yong menunggu punah
irama kompang tak sampai-sampai jua

laut terus resah, perahu terus berlayar


kayu-kayu laut, rusuh di hadapanmu
di atasnya melayu dan melayu mengadu nasibnya

laut hari itu tak resah, cuma cuaca yang hitam jelaga
namun di wajahmu, budak melayu gulana; ia pikirkan gelombang menghempas dari seberang dunia entah

nun di seberang kediaman, di pulau mak yong ditabuh gendangnya
di atas tanah digugur ombak, di sebelah kompeni bangun barisan
perih masih terpendam, orang-orang masih diam

di pulau tidur, yang tak ada di peta, tak terapung di laut
namun dilaut dirimu mengapung-apung nasibnya

di sudut sana, di selatan, di utara, jauh dari parfum gadis-gadis nagoya
ratusan, entah ribuan masih tak bisa membaca di mana sejarah dunia.


belakang padang island-batam, 21 Juni 2007




Sajak Wannofri Samry
BANGKIT YANG BERAT
1.
bangkit yang berat, cahaya terobos jendela
pagi yang kemaren; lemari, kasur, hiasan bisu semua____
“nasi ada, lauk di meja, aku berangkat dulu ya?”, katanya
ruangan seakan menunggu waktu kembali dan berangkat

jarum terus berdetak, kubayangkan semua bergerak di situ
ia berputar seperti baling-baling dengan angin kencang
huruf-huruf berkisaran dan bersorak, dan kaca meledak

di seluruh ruangan perabot-perabot riuh bergerak
cicak dan kecoa gemetar,
sampah dan debu terbang terobos setiap lobang

di teras dan halaman bunga-bunga jadi mekar, warna-warni
daun-daunya segar, mereka berucap “selamat pagi, ayunkan kaki ke matahari!”
pot-pot berteriak, “kami terlalu kecil untuk sebuah taman”
setiap tumbuhan pun menggerakkan uratnya keluar

kata-kata yang berdiam di sebuah kota
merasa dirinya begitu renta, berdebu dan kusam
seorang raja sudah bertahun-tahun mengurungku di sini
setiap ia intip ke luar, jalan masih hiruk pikuk
seperti pasar di bibir-bibir penghuninya

kata masih meringkuk di rumah-rumah mendendam
dari dada milyaran tenaga akan merompak, hardik setiap urat
daging dan tulang

2.
saat aku terjaga,
ia datang dengan kebosanan dan kemuakan yang sama
di kamar langkah kaki terasa menguntai batu
“aku akan ke ujung sana, mengubah intuisi jadi dunia”
di luar budak-budak sedang bekerja
pertaruhan martabat dan nyawa.


Padang, April 2007




Sajak Wannofri Samry
JAM DINDING YANG GELISAH

jam dinding melirik ke jendela, detik-detik terasa pukulan memekakkan
jarum pendek yang bergerak lambat tiba-tiba ingin lebih cepat
sekonde ingin behenti karena ia menghela jarum-jarum yang besar bertahun, berabad “akulah budak,” katanya

jam dinding terasa punya darah. kacanya mau pecah
dan ingin menimpa seseorang dungu yang tidur di bawahnya
jarum-jarum itu berdoa agar ia bebas dan bermain di lantai

“bergeraklah”, katanya

seorang raja, si dungu bebal yang dicerca, begitu pucat wajahnya
mendengar dongeng seorang pujangga.


Padang, 2007




Sajak Wannofri Samry
SEMAK BELUKAR DI SEBUAH BUKIT

semaksemak itu bersorak, “mari menjalar ke gedung megah itu”
angin bersiut mengiris atap dan menggertak kaca
“teruslah kita rubah dunia !”, kata semak yang terlunta-lunta di bawah pohon raksasa di samping sebuah istana.


Padang, 2007








Sajak Wannofri Samry
GELOMBANG SUBUH

saat kabut merayap subuh terjaga. irama ayat menari-nari ke udara
detak waktu tersedak, ia yang berihtijab di sajadah

kau yang mengelana, dalam subuh
gelombang datang begitu perkasa

dari bibir yang lentur, zikir berhambur
di sajadah puisi berkumpul

di waktu gelisah, udara terbelah-belah
berhantaman, memijarkan api di ujung sana, jauh di abad yang lunta
ribuan berlari, jauh ke dalam rasa__

saat subuh ia bicara, saat gelombang perkasa menggulung sajadah.


Padang, 2007



Sajak Wannofri Samry
TUMBUHLAH !

detak jantung yang yang memompa di ruangku tiba-tiba terhenti. sorak riak bertebaran berpacu di sini, ribuan ekor kuda menarik dunia di cakrawala. ringkiknya menghentak ke dalam sunyi sendiri.

di bingkai jendela angin menderita berpapasan dengan kaca. seorang manusia
menatap hutan-hutan kalah. seekor burung bertahun-tahun terbang di sana. percikan darah mengambang ke udara. ribuan semut rombak di tanah. sarang yang dibangun lapuk dalam waktu sebelum pintunya dibuka.
orang berlarian entah ke ujung-ujung mana.

ranting-ranting belukar hutan bertahun-tahun terbaring di sunyinya
ribuan akar berdoa menggeliatkan jemarinya. saat matahari membakar
ia lantunkan suara, “tumbuhlah kembali!”


Padang, 2007



Sajak Wannofri Samry
DATANG KE MASA KECILKU

pohon-pohon itu melambai-lambai bila aku datang ke rumah masa lalu
di sana kecilku terus mengalir menelusuri celah-celah kaki bukit mengalir seirama petani menjelajajahi jalan-jalan kecil
anak-anak kampung berlarian ke masa laluku, terus menghilang bersama angin
dan waktu, mereka tak membayangkan bunga-bunga bukit tumbuh seperti bunga-bunga hibrida, seperti aku yang kini membayangkan bunga krisan mekar menyala

di sungai-sungai di bukit-bukit tiada api melalap, karena api yang liar akan membakar kerimbunan para petani di seluruh peladangan. di sana menetes kehidupan seperti tetesan air sejuk dari akar-akar kayu di tebing-tebing, kehidupan kesejukan air-air gunung yang di mana-mana meluncur, hari-hari adalah kerimbunan.


Padang, 2007

Tidak ada komentar: